Menyambut Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan  (25 November) dan Hari Hak Asasi Manusia  (10 Desember)

Mainteater

Bandung
BANDUNG - WAKTU TANPA BUKU

Sutradara : Heliana Sinaga
Ast. Sutradara : Dasep Sumarjani

PEMAIN:
Kemal Ferdiansyah
Rinrin Candraresmi
Ria Nilam Sari
Christie Vaam Laloan
Heliana Sinaga

Pimpinan Artistik : Deden Jalaludin Bulqini
Kru Artistik : Aep Suherman
Penata Cahaya : Aji Sangiaji
Penata Musik : Tesla Manaf
Manajer Panggung : Angga Prihayadi
Video & Editor : Joedith Tjhristianto
Kru Videografer : Musa Saiq & Alam
Pimpinan Produksi : Khoiri Setiawan
Staf Produksi : Osi Prisepti, Tofan Aditya, Ratu Selvi Agnesia

Mainteater

Mainteater adalah lembaga nirlaba yang dibentuk tahun 1994 oleh beberapa teaterawan dari Indonesia dan Australia. Mainteater telah menjelajahi beragam kemungkinan pementasan, antara lain: pementasan teater untuk anak-anak, penyajian monolog yang berangkat dari akar tradisi, pemanggungan naskah Indonesia dalam dua bahasa, pengadaptasian monolog ke dalam bentuk teater fiskal tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Auslan), proses kreatif pementasan multikultural dan cross culture, serta naskah-naskah baru yang belum pernah dipentaskan di Indonesia dan naskah lama dengan intrepretasi baru.

Pendiri :
Wawan Sofwan
Nandang Aradea (Alm).
Sandra Fiona Long
Otong Durahim
Deden Abdul Azis

Pembina:
Godi Suwarna
Safrina Noorman
Ahid Hidayat
Roni Boan Elarika
Osi Prisepti
Pradetya Novitri

Manajemen
Direktur Umum : Heliana Sinaga
Wakil Direktur : Faisal Syahreza
Maudy Widitya

Divisi Kajian Literatur & Kekaryaan
Direktur : Sahlan Mujtaba
Staf Kajian Literatur : Dasep Sumarjani
Fuad Jauharudin
Staf Kajian Kekaryaan (Tari & Gerak) : Wina Rezky Agustina
Galih Mahara

Divisi Artistik & Multimedia
Direktur : Deden Jalaludin Bulqini
Staf : Aji Sangiaji
Aep Suherman

Divisi Desain Grafis & Dokumentasi
Direktur : Dita Rosmaritasari
Staf : Muhammad Sa’iquddin Ashshofy

Divisi Produksi
Staf : Nirvana Vania
Christie Van Laloam
Khoiri Setiawan
Angga Prihayadi

 

Program Pilihan yang diraih:

  • “The Light Within a Night/Cahaya Memintas Malam”. Pentas kolaborasi mainteater dengan La Trobe University Student Theatre and Film, Australia dan Teater Lakon Universitas Pendidikan Indonesia. Disutradarai oleh Bob Pavlich dan Sahlan Mujtaba, dipentaskan di Bandung dan Bali, Indonesia; di La Trobe University, dalam rangka HUT ke-50, dan sebagai bagian dari Festival AsiaTOPA 2017 di La Mama Couthouse, Australia (2017).
  • “Tan Malaka: Rusa Berbulu Merah” Karya Ahda Imran. Monolog yang disutradarai oleh Wawan Sofwan dan dipentaskan di IFI Bandung (2016).
  • “Urat Jagat/Veins of the Universe” karya Godi Suwarna. Pentas kolaborasi Poetry Performing Arts dengan seniman-seniman dari Melbourne, Australia dan didukung Multicultural Arts Victoria dipentaskan di Bandung, Jakarta, Serang dan Bali (2015).
  • “Ken Arok”. Pentas hibah dari Museum Nasional dalam rangka Program Pentas Akhir Pekan di Museum Nasional, Jakarta (2015).
  • “Cakar Monyet” karya W.W Jacobs dipentaskan di Salihara, Jakarta (2014).
  • Teater pemberdayaan masyarakat Bone, Sulawesi Selatan didukung oleh Yayasan Kelola, PSF, PNMPM, di Bone, Sulawesi Selatan (2013-2014).
  • “Kembali/Tilbakekomstene” karya Fredrik Brattberg, pentas naskah kontemporer Norwegia dilengkapi dengan seminar internasional bertajuk “Perkembangan Drama Modern Indonesia dan Norwegia”. Kegiatan ini didukung Kedubes Norwegia dan dipentaskan di IFI, Bandung (2013).
  • ‘Ubuntu Musik Bandung”. Program pemberdayaan anak-anak jalanan kota Bandung di bidang musik. Memberikan pelatihan musik dan teater. Mainteater bekerja sama dengan Ubuntu (Belanda) Common Room, dan Rumah Musik Harry Roesli (2013).
  • “Wujudkan Mimpimu”. Program pemberdayaan anak-anak jalanan kota Bandung dibidang teater melalui pelatihan menulis, musik dan teater. Mainteater bekerja sama dengan Ubuntu Theatre (Belanda) dan Yayasan Bahtera. Dipentaskan di 17 tempat do kota Bandung (2011).
  • “Ladang Perminus” karya Ramadhan KH. Mainteater berkerja sama dengan Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Perkumpulan Praxis. Pementasan ini bertujuan sebagai bentuk kampanye anti korupsi pada para pelajar dipentaskan diBandung, Semarang dan Jakarta (2009).
  • “Dibawah Lapisan Es” karya Falk Richter. Disutradari oleh Wawan Sofwan dan Meraih Hibah Seni Inovatif dari Kelola-Hivos (2009).
  • “Sandekala” karya Godi Suwarna. Mainteater berkerjasama dengan Indonesian Corruption Watch, Perkumpulan Seni Indonesia, WALHI dan didukung oleh ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Voice of Human Rights, Transparancy International Indonesia. Pementasan ini bertujuan sebagai bentuk kampanye anti korupsi pada publik dan di pentaskan di Bandung dan Jakarta (2008).
  • “Electronic City” karya Falk Ritcher, monolog yang disutradarai oleh Edwin Sumun (Malaysia) dan Wawan Sofwan (Indonesia), di Kuala Lumpur Performing Art Centre, Malaysia dalam bahasa Inggris (2005). Memenangkan “Best Lighting Design, Best Music And Sound Design In Theatre, Best Set Design, dan Best Costume Design” dalam “4th Annual Boh Cameronian Arts Awards Night 2005” Kuala Lumpur, Malaysia, (2005). Di pentaskan ulang dan disutradarai oleh Wawan Sofwan serta didukung oleh Goethe Institut Jakarta dipentaskan di Bandung, Surabaya, Bali dan Jakarta (2008).
  • “HAPPY 1000…1000 Bahagia” karya Peter Turini. Pengadaptasian monolog kedalam bentuk teater fiskal tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Auslan) oleh Wawan Sofwan, Jodee Mundy, Tiffany Ball, yang disutradarai oleh Sandra Long. Dipentaskan di Victorian College of Art Melbourne (1998), The Black Box Victorian Art Centre soutbank entrance, Melbourne (2000), dan memperoleh penghargaan “The Melbourne Fringe Theatre Award 2000-innovation of form”, serta masuk nominasi “Green Room Award”. Terpilih oleh surat kabar Australia “The Age” sebagai salah satu dari lima pementasan terbaik di Melbourne sepanjang tahun 2000; London International Festival Of Theatre (2004).
  • Beberapa pertunjukan kolaborasi lintas Negara, yaitu “Sumur Tanpa Dasar/The Bottomless Well” (Indonesia dan Australia), “Oknum” (Indonesia, Australia, Malaysia, dan Berlin), “Dam” (Australia, Indonesia dan Eropa), “Kunang-kunang di Manhattan” (kolaborasi bersama mahasiswa Jerman), “Body Wheather” (kolaborasi dengan mahasiswa Belanda).

Produksi Institut Ungu 2020